Banyak orang sudah tertipu dengan pemberitaan media massa yang menceritakan bahwa HIV telah terisolasi. Gambar HIV yang dari sejak publikasi AIDS pertama kali sampai dengan yang sekarang, sebenarnya merupakan manipulasi komputer dan sebagian lagi adalah manipulasi kultur dalam sebuah lab. Bukti ilmiah yang benar tentang HIV/AIDS itu sendiri tidaklah pernah ada. Pemanipulasian ini sudah dibeberkan di materi “Mitos Sekitar Viral Load dan Sel T”, tapi saya bahas lagi untuk benar-benar bisa meyakinkan Anda karena menghapus program “cuci otak” perlu diberikan penekanan yang berulang-ulang.

Sekarang mari kita simak sekilas berita dari kompas mengenai penemuan HIV/AIDS…

Akhir Drama Penemuan HIV

Persaingan Luc Montagnier dan Robert Gallo, dua penemu human immunodeficiency virus, virus penyebab AIDS atau acquired immune deficiency syndrome, berakhir sudah. Montagnier memperoleh Hadiah Nobel Kedokteran 2008 bersama asistennya, Francoise Barre-Sinoussi, sementara Gallo harus gigit jari. Mengapa begitu?

Dewan juri Hadiah Nobel Kedokteran di Stockholm, Swedia, sama sekali tidak menyebut nama Gallo dalam penjelasan mereka. Padahal, tanpa peran Gallo dalam menemukan interleukin-2 tahun 1975 dan teknik membiakkan kultur retrovirus manusia, Montagnier dan timnya di Institut Pasteur Paris tak akan berhasil menumbuhkan biakan HIV.

Ironisnya, Barre-Sinnousi justru pernah magang di laboratorium National Institute of Health (NIH) di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat (AS), yang dipimpin Gallo. Tragisnya lagi bagi Gallo dan para ilmuwan AS, kasus-kasus pertama AIDS–yang waktu itu belum diberi nama AIDS, melainkan gay syndrome karena dilaporkan menjangkiti komunitas pria homoseksual–jutru ditemukan tahun 1981 di New York dan California.

Keputusan dewan juri Hadiah Nobel Kedokteran tahun ini memang agak aneh karena separuh hadiahnya diberikan kepada Harald zur Hausen yang meneliti HPV atau human papilloma virus, salah satu penyebab utama kanker leher rahim. Sementara Montagnier dan Barre-Sinoussi memperoleh separuh sisanya sehingga harus dibagi di antara mereka berdua. Dari besaran masalah yang ditimbulkannya, jelas HIV jauh lebih besar ketimbang HPV. HIV juga lebih serius dibanding bakteri Helicobacter pylori, penyebab tukak lambung dan tahun 1994 diakui WHO dapat menyebabkan kanker–yang tahun 2005 mengantar Barry J Marshall dan Robin Warren memperoleh Nobel Kedokteran.

Seharusnya Panitia Nobel Kedokteran memberikan penghargaan lebih awal dan secara utuh (tidak dibagi separuh kepada temuan virus lain) kepada Montagnier dan dua asistennya. Selain Barre-Sinoussi, sebenarnya peran Jean-Claude Chermann juga amat menentukan dalam penemuan lymphadenopathy-associated virus (LAV), nama awal HIV versi Montagnier. Dinamakan LAV karena virus itu dibiakkan dan diambil pada tanggal 3 Januari 1983 dari cairan kelenjar getah bening (limfa) yang membenjol di leher seorang perancang busana Paris bernama Frederic Brugiere. Pria homoseksual berusia 33 tahun ini mengaku melakukan hubungan seks sejenis dengan 50 orang pria dalam setahun, dan tahun 1979 ia berfoya-foya di kota New York.

Kependekan nama Brugiere, BRU, menjadi begitu terkenal dalam silang sengketa antara Montagnier versus Gallo karena sampel virus berkode BRU pernah dikirim oleh Institut Pasteur Paris ke laboratorium Gallo, dan ternyata oleh Gallo virus itu kemudian dibiakkannya dan tanggal 24 April 1984 diklaim sebagai virus penyebab AIDS temuannya. Waktu itu Gallo masih menamakannya HTLV (Human T Lymphotropic Virus) III karena menganggapnya masih serumpun dengan HTLV I dan II, dua tipe retrovirus penyebab leukemia yang ditemukannya menyusul kematian adik perempuannya akibat leukemia. Berkat publisitas yang gencar, masyarakat AS dan dunia waktu itu percaya bahwa penemu virus penyebab AIDS adalah Gallo dan timnya.

Sudah diramalkan

Dalam tulisan “Dua Kemenangan Montagnier” (Kompas, 5/1/1993) sudah diungkapkan betapa pada Mei 1983 Montagnier dan timnya sudah mempublikasikan bahwa mereka berhasil mengisolasi LAV yang diduga menjadi penyebab AIDS di jurnal Science. “Tentu saja terjadilah pertarungan gengsi untuk memperoleh pengakuan dunia, siapa yang pertama kali menemukan virus penyebab AIDS. Karena bukan mustahil sang penemu nantinya akan memperoleh Hadiah Nobel bidang Kedokteran.” Ramalan Kompas bahwa Montagnier dan timnya amat pantas memperoleh Nobel Kedokteran, sementara peluang Gallo justru sudah pupus (Kompas, 21/11/1993) terbukti benar!

Setelah tujuh tahun terjadi “duel transatlantik” (istilah majalah Time 20/5/1991), akhirnya memang Montagnier-lah yang dikukuhkan sebagai penemu HIV. Pengakuan itu justru diberikan oleh NIH, tempat Gallo bekerja. Gallo sendiri malah divonis Badan Integritas Riset (ORI) yang dibentuk Depkes AS melakukan manipulasi ilmiah (scientific misconduct). Namun, dalam pengadilan banding 12 November 1993, Gallo dinyatakan tidak bersalah oleh Panel Banding Integritas Riset (RIAP). Tak urung reputasi keilmuwanan Gallo sudah telanjur hancur.

Yang jelas, sejak awal praduga Gallo tentang HIV itu serumpun dengan HTLV I dan II yang menyebabkan limfosit berkembang liar menjadi leukemia sudah salah karena Montagnier dan timnya justru mengamati bahwa LAV atau HIV justru membunuh sel-sel limfosit yang diinfeksinya. Sel-sel inang itu terlihat “bunuh diri” atau lazim disebut fenomena aptosis.

Pelajaran yang dapat dipetik dari drama penemuan HIV adalah bahwa integritas ilmiah modal utama ilmuwan. Genius saja seperti Gallo ternyata tidak cukup. Namun, betapapun Gallo tetap berjasa, meletakkan anak tangga temuan teknik isolasi dan perbanyakan retrovirus sehingga Montagnier dan timnya dapat menapak anak tangga kemajuan ilmu berikutnya.

kompas.com, 8 Oktober 2008  [90]

Dari berita di atas, masyarakat akan langsung mengambil kesimpulan bahwa HIV benar-benar penyebab AIDS dan HIV telah berhasil diisolasi. Toh, ada buktinya yaitu penemunya mendapat Hadiah Nobel!?!

Tapi benarkah peraih Hadiah Nobel SUDAH PASTI BENAR? Mari kita telusuri lebih dalam lagi…

.

STEFAN LANKA MEMBONGKAR “PENIPUAN HIV”

Dr. Stefan Lanka

Dr. Stefan Lanka

Terungkapnya Gambaran Palsu “Virus Terisolasi” [91]

Dr. Stefan Lanka, seorang virologist dan biologist molekular, dikenal secara internasional sebagai “kritikus AIDS” (dan mungkin “kritikus genteknologi”) sejak tahun 1994 meragukan akan “keberadaan” HIV. Beberapa tahun yang lalu, dia tertarik dengan fakta yang mendebarkan hatinya, yaitu: TAK SATUPUN (relevan secara medis) HIV yang ada benar-benar berhasil terisolasi. Tidak ada bukti sama sekali akan keberadaan mereka.

Sebenarnya, Dr. Lanka telah menyatakan 3 tahun yang lalu dalam Zenger´s interview: [92] “Sampai saat ini, selama saya mempelajari virology, dari akhir sampai awal dan dari awal sampai akhir, saya yakin bahwa HIV itu sebenarnya tidak ada. Adalah mudah bagi saya untuk yakin akan hal ini karena saya menyadari bahwa seluruh kelompok virus dimana dipercaya sebagai HIV, yaitu para retrovirus, begitu juga dengan virus lainnya yang diklaim sangat berbahaya, pada kenyataannya sama sekali tidaklah pernah ada.”

Demikianlah ia dengan seksama mempelajari lagi literatur “virus berbahaya lainnya” dan setelah tidak menemukan bukti tertulis yang mendukung keberadaan HIV, dia mendorong semua orang untuk TIDAK MEMPERCAYAINYA tapi untuk langsung bertanya sendiri kepada institusi dan pemerintah. Inipun terjadi dan kebanyakan dari inisiatif para ibu-ibu. Banyak respon bermunculan. Di September 2001, buku Stefan Lanka dan Karl Krafeld berbahasa Jerman “Impfen – Völkermord im dritten Jahrtausend?” (Vaksinasi – Genocide di Milenium Ketiga?) dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa sampai sekarang belum ada bukti akan keberadaan HIV.

Hampir satu tahun Lanka bertanya kepada pemerintah, politikus, dan institusi medis setelah bukti ilmiah dari keberadaan virus-virus yang dikatakan sebagai penyebab suatu penyakit dan dengan demikian diperlukan “imunisasi”. Setelah hampir satu tahun Lanka tidak pernah mendapatkan jawaban konkrit yang menyediakan bukti akan keberadaan virus-virus yang perlu di vaksin tersebut. Namun hal ini mencemaskan karena mengetahui bahwa anak-anak di Jerman masih tetap divaksinasi atas dasar standar ilimiah abad 18 dan 19.

Di abad 19, Robert Koch dituntut untuk bisa membuktikan dalilnya akan adanya virus yang menyebabkan infeksi. Di era Koch saat itu, bukti seperti ini tidak bisa dilakukan lewat visualisasi dan penggambaran virus, karena belum ada teknologi yang menunjangnya. Jadi saat itu Koch tidak mungkin bisa memberikan bukti secara visualisasi. Metode medis modern telah banyak berubah selama 60 tahun ini dalam hal partikel dengan ditemukannya mikroskop elektron. Dan sebenarnya, semua virus yang dianggap berbahaya dan perlu diberi vaksin ini ternyata belum pernah diperiksa ulang oleh mikroskop elektron ini!

Semua foto di bawah ini tidak bisa diklaim sebagai virus, karena foto-foto tersebut tidak bisa dibuktikan sumber aslinya dan tidak bisa mendeskripsikan akan bagaimana dan darimana virus ini diisolasi. Publikasi semacam ini tidak diketahui sumber aslinya. Selama ini belum ada bukti ilimiah yang mendukung teori atau dalil Koch, begitu juga bukti bahwa virus-virus berbahaya yang perlu diberi vaksin telah berhasil diisolasi langsung dari tubuh manusia.

  1. Kebanyakan dari foto-foto seperti ini ditampilkan berwarna-warni. Ini cukup sebagai bukti bahwa mereka adalah manipulasi komputer, karena foto mikroskop elektron selalu hitam putih.
  2. Gambaran di bawah ini yang disebut sebagai virus HIV, campak (Masern), dan cacar (Pocken), sebenarnya merupakan sel tempat virus-virus tersebut ditemukan. Jadi foto-foto ini bukanlah gambaran isolasi virus. Mereka hanya menunjukkan gambaran sel-sel dan partikel endogenous umum. Struktur-struktur ini diketahui berfungsi sebagai media transportasi di dalam dan antar sel.

  1. Dalam kasus virus influenza, herpes, vaccinia, polio, adeno dan ebola, tiap-tiap foto hanya menunjukkan partikel tunggal. Tak seorang pun yang meng-klaim foto-foto ini sebagai partikel yang terisolasi asli dari tubuh manusia.

Partikel-partikel ini merupakan partikel sel yang ada di foto-foto nomer 2, dimana partikel-partikel tersebut berkembang dari manipulasi laboratorium sebelum dilihat dengan mikroskop elektron.

  1. Virus polio “terisolasi” di bawah ini adalah partikel “buatan” dari manipulasi lab dengan teknik vacuum. Struktur partikel ini sangat berbeda dengan “virus” di dalam sel (no 2).
  2. Foto “virus” hepatitis B di bawah ini bukanlah struktur yang terisolasi, tapi merupakan suatu aglutinasi (suatu bentuk pelekatan kelompok). Foto ini adalah protein dalam darah yang menempel satu sama lain yang biasa terjadi pada proses koagulasi.

Kesimpulannya, bisa dikatakan bahwa foto-foto di atas adalah suatu usaha manipulasi atau penipuan dari para peneliti dan ilmuwan medis terkait, dengan mengatakan bahwa ini semua adalah virus-virus yang terisolasi. Sampai sejauh mana penipuan ini mungkin juga berkonspirasi dengan para jurnalis dan penulis, Lanka dan teman-teman tidak tahu pasti. Siapapun yang memulai penelitian untuk membuktikan dalil Koch, akan selalu mengalami kegagalan.

Tidaklah mungkin sebutan “virus” yang berasal dari abad 18 dan 19 ini memang benar-benar ditemukan oleh Koch karena mikroskop elektron baru ditemukan di tahun 1931. Dan untuk menutupi “kejanggalan” ini, virus “aspal” (asli tapi palsu) ini seringkali mereka “gambarkan” bukannya mereka isolasi. Kemudian mereka menggunakan logika yang dibuat-buat untuk memalsukan efek samping dan bahaya vaksinasi hepatitis B, cacar, dan campak. Gambar atau foto-foto di atas yang diambil dari suatu buku medis sebenarnya hanya menunjukkan struktur yang ada di dalam sel, bukannya virus yang terisolasi.

.

HIV YANG DIKLAIM OLEH GALLO DAN LUC MONTAGNIER JUGA KULTUR YANG DIMANIPULASI

Etienne de Harven, MD, adalah seorang pensiunan Profesor Pathology University of Toronto. Ia telah menjadi anggota Sloan Kettering Institute (New York) dan ada dalam keanggotaan AIDS Advisory Panel yang diadakan oleh Presiden T. Mbeki di tahun 2000. Ia sangat ahli dibidang mikroskop elektron.

Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih detail tentang manipulasi isolasi HIV, Anda bisa menghubungi Harven langsung di pitou.deharven@wanadoo.fr

Harven mengemukakan bahwa sampel HIV yang dikatakan berhasil diisolasi sebenarnya sama dengan virus “Friend” leukaemia. Kedua retrovirus tersebut, yaitu Friend leukaemia dan “sesuatu” yang diasumsikan sebagai HIV sama-sama memiliki morfologi yang sama di bawah pengamatan mikroskop elektron. Keduanya memiliki diameter yang identik dan kepadatan yang sama.

Dalam penelitian Harven, tikus percobaan yang menderita Friend leukaemia memiliki level partikel viral tertentu dalam aliran darah mereka. Hal ini dulunya disebut sebagai “Viraemia“ [93], tapi kemudian disebut sebagai “Viral load“, dalam terminologi terkini. Hasil ilustrasi partikel viral yang ada pada tikus percobaan adalah seperti gambar berikut:

Dalam gambaran mikroskop elektron ini, dapat dilihat populasi partikel virus yang serupa. Mereka semua memiliki diameter dan morfologi yang sama. Anda harus sangat cermat untuk bisa mengidentifikasikan secara khusus struktur virus yang ada dan juga membedakannya dari unsur partikel-partikel lainnya.

Harven menyatakan bahwa bahwa sampai sekarang ini, belum pernah ada yang sanggup menunjukkan keberadaan HIV melalui teknik isolasi yang sangat sederhana seperti ini, bahkan dalam sample darah Odha yang dikatakan viral loadnya tinggi.

Bukti mendasar akan keberadaan suatu virus ini tidak bisa diberikan oleh para ilmuwan manapun dalam konferensi AIDS di Pretoria, S.A., in May 2000 [94]. Tak satupun dari para ahli yang bisa mendemonstrasikan gambaran di atas asli dari pasien AIDS.

Bahkan dulu pernah ada penawaran resmi $100.000 bagi siapapun yang berhasil mendemonstrasikan partikel HIV asli dari pasien AIDS berviral load tinggi. Namun sampai sekarang belum ada yang sanggup memenangkan uang tersebut. [95] Harven mengatakan bahwa teknik isolasi sederhana yang berhasil dilakukan pada tikus percobaan, seharusnya juga berhasil pada HIV, JIKA MEMANG HIV ITU BENAR-BENAR ADA!

Ada beberapa tanda yang bisa dijadikan landasan ilmiah akan kebenaran keberadaan suatu virus, yaitu: tanda fisik, biologis, dan tanda genetik.

.

Tanda Fisik

Lama diketahui bahwa retrovirus yang ada pada ayam, tikus, dan kucing semuanya memiliki bentuk dan kepadatan yang sama. Semuanya memiliki densitas atau kepadatan sukrosa 1.16 gm per ml [96]. Jika HIV dianggap sebagai retrovirus, kepadatan HIV juga harus sama dengan yang lainnya, yaitu 1.16 gm per ml.

Namun sudah lama diketahui sebelum adanya AIDS bahwa banyak fragmen dan partikel sel buangan juga memiliki kepadatan yang sama dengan retrovirus. [97, 98] Pengumpulan materi fragmen dan partikel sel buangan seperti ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai isolasi retrovirus. Nah, pentingnya membedakan mana yang merupakan retrovirus dan mana yang hanya partikel sel buangan perlu dipertanyakan dalam konferensi yang diadakan di Paris, tahun 1973. [96]

Dan tahukah Anda bahwa hal pemisahan ini ternyata tidak ada dalam laboratorium Pasteur Institute tempat (yang katanya) “ditemukannya” HIV. [99] Sungguh ironis, media massa dan para ahli tergesa-gesa mengumumkan bahwa “telah berhasil ditemukan suatu virus baru dari hasil isolasi retrovirus” yang kemudian mereka sebut sebagai HIV!

.

Tanda Biologis

Dalam hal tanda biologis pun, bukti keberadaan HIV juga masih meragukan karena tanda biologis yang diasumsikan pada HIV sebenarnya juga dimiliki oleh partikel-partikel sel atau viral lainnya sebagai hasil dari kontaminasi adanya sel, virus, bakteri, partikel lain dalam satu kultur. [100, 101, 102]

Kultur Gallo dan Luc Montagnier, masih belum dimurnikan dari kontaminasi unsur-unsur lain yang dapat memalsukan tanda biologis suatu retrovirus. Terlebih lagi, kultur isolasi HIV mereka tidak dapat dibuktikan secara mikroskop elektron. [97, 98]

.

Tanda Genetik dan Pengukuran “Viral Load”

Pendekatan ini harus dilandasi 2 hal: Satu, harus berasal dari darah pasien dan dua, harus merupakan metode kuantitatif.

Namun seperti yang sebelumnya telah dijelaskan, demonstrasi visual dari mikroskop elektron, tidak pernah ada walaupun pada Odha yang berviral load tinggi. [94] Terlebih lagi, metode PCR juga masih diragukan dan Kary Mullis sendiri, peraih Nobel karena penemuannya atas metode PCR, menolak metode ciptaannya untuk dipakai sebagai pengukuran kuantitatif viral load HIV. [103]

.

Penipuan dengan Manipulasi Gambar Komputer dan Manipulasi Kultur Lab

Selain tanda-tanda di atas dimana HIV tidak lulus test, semua gambar atau foto AIDS yang selama ini dipublikasikan, termasuk milik Gallo dan Montagnier, adalah manipulasi gambar komputer. Foto asli dari mikroskop elektron adalah hitam putih, tapi foto-foto yang kita lihat selama ini berwarna-warni!

Nah, sekarang… masih yakinkah Anda bahwa HIV telah berhasil di isolasi. Isolasi HIV tidak akan pernah berhasil dilakukan karena HIV itu sendiri tidak pernah ada. Tidak mungkin mengisolasi sesuatu yang tidak ada!

Dalam tiap uji penelitian AIDS, kultur-kultur lab yang di uji adalah tercampur dan distimulasi tinggi.

Tercampur artinya kultur tersebut, seperti misalnya dari lab Gallo, mengandung limfosit dari seorang pasien dengan sel H9, yaitu suatu sel yang biasa diketahui sebagai pembawa retrovirus secara kronis (menahun). [104] Atau dalam kasus Pasteur Institute [99], limfosit yang berasal dari pasien diduga penderita AIDS tercampur dengan limfosit yang terisolasi dari darah plasenta dan ilmfosit ini sejak 1979 [105] telah diketahui sebagai pembawa retrovirus endogenous (retrovirus yang dihasilkan oleh tubuh sendiri).

Kultur-kultur ini juga telah distimulasi tinggi (sengaja dirangsang untuk bereaksi) dengan satu atau dua bahan aktif seperti misalnya phytohemagglutinin (PHA), T cell lymphocyte growth factor (TCGF), atau interleukin2, atau dengan hormon-hormon corticosteroid. Semua bahan-bahan aktif ini diketahui dapat mengaktifkan ekspresi retrovirus endogenous (HERV) yang sebenarnya hanya virus lemah.

Nah, reaksi aktif dalam kultur lab Pasteur Institute adalah hasil manipulasi stimulasi tinggi yang memakai PHA dan TCGF [99]. Kultur lab hasil manipulasi inilah yang diklaim sebagai “isolasi HIV”. Sungguh suatu penipuan.

.

VIDEO HOAX TENTANG PENYEBARAN HIV ANTAR SEL T

Telah tersebar di komunitas Odha akan adanya video yang memperlihatkan bagaimana HIV menyebar dari sel T yang terinfeksi ke sel T yang sehat melalui struktur yang disebut “virological synapses”. Berita mengenai video yang mencengangkan ini dipublikasikan oleh The Body di bulan Maret 2009. Tapi sungguh sayang ternyata video ini hanya menampilkan satu lagi “kesalahan” penelitian HIV yang lagi-lagi sekedar manipulasi uji ilmiah belaka. Mari kita teliti bersama-sama apa saja “kebohongan”-nya.

.

Antusiasme Baru Dari Bukti Visualisasi Lab

The Body menyatakan bahwa ini pertama kalinya proses penyebaran HIV yang berhasil direkam dalam video. Hal ini dilakukan oleh tim peneliti dari Mount Sinai School of Medicine dan UC Davis Center for Biophotonics Science and Technology, dengan memakai video microskopis untuk tampilan sel.

Dulu, video tersebut ada di link: http://broadcaster. thebody.com/ t?ctl=16B872: 0158E0F634EBA141 A144A4D4BE7D8A65 &

Namun sayang sekali video tersebut sekarang sudah dihapus (mungkin karena banyaknya kecaman dan kritik yang memperlihatkan kesalahan-kesalahan fatal). Tapi untungnya, saya menemukan link lainnya yang memperlihatkan berita dan video ini, yaitu di link http://www.ucdmc.ucdavis.edu/welcome/features/20090701_HIV_spread/

Atau Anda bisa juga melihat videonya di youtube di link https://www.youtube.com/watch?v=Ksgazx4jsLA

Berita dan video dari The Body ini, memperlihatkan bagaimana HIV menyebar dari sel T yang terinfeksi ke sel T yang sehat.

Terobosan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan cara-cara baru (terutama vaksin) untuk memblokir transmisi HIV, mengingat bahwa proses penyebaran HIV dari sel T satu ke sel T lainnya ternyata sangat efisien dan mungkin merupakan cara utama penyebaran HIV di dalam tubuh.

Selama ini penelitian-penelitian tentang penyebaran HIV difokuskan pada partikel yang beredar bebas (free-roaming particles) yang diperkirakan sangat berperan dalam penyebaran HIV (dengan cara menempel pada sel sehat, lalu mereplikasi diri setelah menguasai mekanisme replikasinya, kemudian partikel-partikel baru itu melanjutkan proses infeksi dengan menempel pada sel-sel sehat lainnya setelah berada dalam aliran darah).

Bagi para peneliti, studi ini menunjukkan dengan jelas bagaimana proses infeksi dari sel T langsung ke sel T lainnya, terjadi melalui “virological synapses“, hal mana sebenarnya sudah diketahui sejak tahun 2004, tetapi ketika itu belum jelas bagaimana prosesnya.

.

Kesalahan Fatal pada Video yang Tidak Dilihat Orang Awam dan Golongan Medis Konvensional

Awalnya sebelum membaca dengan cermat, melihat, dan mempelajari berita dari The Body ini saya menjadi penasaran dan berkata di dalam hati… kalau memang HIV itu ada dan sudah ketahuan batang hidungnya secara visualisasi, … “yo wess” tinggal kita basmi saja pakai cara alami. Toh akhirnya dia sudah ketahuan dan tidak bisa “ngumpet” lagi.

Tapi ya ampun… setelah saya selesai membacanya, saya langsung bisa melihat kesalahan fatal dari uji ilmiah dan video ini yang menunjukkan bahwa bukti visualisasi ini SANGAT TIDAK MASUK AKAL DAN 100% MANIPULASI BELAKA.

Saya pernah menyebutkan sebelumnya bahwa isolasi HIV selama ini adalah manipulasi, ternyata video yang menampakkan “HIV” ini juga termasuk manipulasi yang baru. Video ini tidak bisa dijadikan bukti bahwa HIV itu ada karena dalam penelitian yang dilakukan oleh UC Davis dan Mount Sinai School of Medicine, semuanya dilakukan lewat manipulasi kultur jaringan lab.

Perlu Anda ketahui bahwa dari awal penelitian AIDS sampai detik ini, belum pernah ditemukan bukti otentik yang berhasil memvisualisasikan HIV di dalam sel. Semua isolasi HIV sampai sekarang ini, terlebih yang diperlihatkan video ini, hanya merupakan MANIPULASI kultur jaringan belaka.

Manipulasi ini terlihat dengan jelas jika Anda MEMBACA DENGAN CERMAT artikel The Body tersebut.

Para peneliti begitu memuji akan keberhasilan mereka dalam memanfaatkan teknologi canggih yang sanggup melihat “virus”. Tapi mereka ceroboh untuk memperhatikan pokok permasalahan sebenarnya, yaitu: Mereka harus memiliki KULTUR JARINGAN ASLI dalam penelitian.

Alih-alih memiliki kultur jaringan asli, mereka malah membuat “kloning molekular”. Jadi sudah jelas bahwa kultur jaringan yang diteliti tidaklah asli, telah “dimanipulasi”. Dan parahnya lagi, mereka mengambil komponen genetika dari ubur-ubur ke dalam kultur dengan tujuan supaya sel T yang “dianggap terinfeksi HIV” bisa memperlihatkan cahaya HIV-nya dan bisa ditangkap oleh video. Campuran genetika dan praktek kloning tersebut tentu saja “mencemari” sifat asli kultur jaringan yang diteliti.

Kesalahan fatal yang tidak dipertimbangkan lainnya oleh mereka adalah kultur jaringan ini diteliti di dalam lab dalam tempo 19 jam.

Maksud saya begini… kondisi di dalam piringan penelitan adalah statis tidak ada pergerakan sel, suhunya tidak sesuai dengan suhu tubuh, serta tidak ada perputaran energi hidup antar sel. HABITATNYA BERBEDA DARIPADA HABITAT ASLINYA! Apalagi selama 19 jam penelitian, kultur jaringan di atas piringan boleh dibilang kondisinya SANGAT JAUUUUH berbeda jika masih di dalam organ inang. Tapi ingat, … kultur ini bukan asli dan merupakan kloning. Ini sama saja dengan meneliti bagaimana kehidupan seseorang dengan cara melihatnya di dalam kolam air padahal habitat asli manusia adalah di atas tanah dan lingkungan bebas yang “penuh warna”.

Rangkuman kesalahan fatal dari uji ilmiah rekaman “video super” ini adalah:

  • Kultur jaringan yang diteliti tidak asli, merupakan kloning dari sel yang dianggap terinveksi HIV. Ini benar-benar meragukan kebenaran klaim yang menyatakan bahwa “partikel” yang ada merupakan HIV. Bagaimana jika bukan? Buktinya mana kalau itu asli HIV? Bukankah ini sekedar hasil kloning dari jaringan aslinya?
  • Sudah tidak asli, lebih parah lagi dicemari oleh komponen genetik ubur-ubur!
  • Walaupun diteliti secara real time, sayangnya diteliti di atas piringan kultur jaringan yang statis -tidak real condition (kondisi sesungguhnya), apalagi selama 19 jam. Kondisi atau keadaan di dalam inang selama 19 jam adalah SANGAT JAUUH berbeda dibandingkan dengan di atas piringan kultur jaringan.

Saya harap, Anda cukup mengerti dengan penjelasan singkat saya ini serta memahami bahwa HIV ITU TIDAK ADA DAN BELUM PERNAH BERHASIL DIBUKTIKAN SECARA ILMIAH SERTA VISUAL KALAU HIV ITU NYATA!!!

Tidak semua uji ilmiah bisa dipercaya bahkan yang menggunakan teknologi paling canggih sekalipun, karena peralatan tercanggih tidak menjamin bisa membuktikan suatu kebenaran. Yang diperlukan adalah POLA PIKIR dan HATI yang benar, serta metode yang tepat dan menuju sasaran. Dalam sains holistik modern, Anda akan memiliki “mata ketiga” yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang “manipulasi/konspirasi”.

.

Referensi:

[90] http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/08/22231489/akhir.drama.penemuan.hiv

[91] http://www.neue-medizin.com/lanka2.htm

[92] http://www.virusmyth.net/aids/data/mcinterviewsl.htm

[93] de Harven E. Viremia in Friend murine leukemia : the electron microscope approach of the problem. Pathologie-Biologie 1965; 13 :125-134. See also : de Harven E., Pioneer deplores « HIV », Continuum 1997, vol 5 n°2, page 24.

[94] de Harven E. Summary statement. Interim Report of the Aids Advisory Panel, Pretoria, SA, May 2000. Published by the South Africa Government, on April 4, 2001.

[95] RusselA.. http://www.redflagsweekly.com/Thursdayreport/prize.html

[96] Sinoussi F, et al. Purification and partial differentiation of the particles of murine sarcoma virus (M.MSV) according to their sedimentation rates in sucrose density gradients. Spectra, N°4, 1973, pp 239-243.

[97] Bess JW et al. Microvesicles are a source of contaminating cellular proteins found in purified HIV-1 preparations. Virology 1997; 203 ;134-144.

[98] Gluschankof P. et al. Cell membrane vesicles are a major contaminant of gradient-enriched human immuodeficiency virus type-1 preparations. Virology 1997; 230: 125-133.

[99] Barré-Sinoussi F. et al. Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a patient at risk for asquired immune deficiency syndrome (AIDS). Science 1983; 220: 868-871.

[100] Ross J et al. Separation murine cellular and murine leukemia virus DNA polymerases. Nature New Biology 1971 ; 231 :163-167.

[101] Beljanski M. Synthèse in vitro de l’ADN sur une matrice d’ARN par une transcriptase d’Esscherichia coli. C.R. Acad. Sci 1972 ; 274 :2801-2804.

[102] Varmus H. Reverse transcription. Sci. Am. 1987 ;257 :48-54.

[103] Mullis K. « Dancing naked in the Mine Field ». Pantheon, 1998.

[104] Dourmashkin RR et al. The presence of budding virus-like particles in human lymphoid cells used for HIV cultivation. VIIth International Conference on AIDS. Firenze 1992 :122.

[105] Panem S. C type virus expression in the placenta. Curr Top Pathol 1979; 66: 175-189.

©2019 DutaSehat.com all rights reserved.

WhatsApp chat

Masuk dengan data akun Anda

atau    

Lupa rincian login Anda?

Buat Akun