Christine Maggiore, suami, dan kedua anaknya

Christine Maggiore, suami, dan kedua anaknya.

Berita meninggalnya Maggiore cukup mengguncang keyakinan para AIDS denialist lainnya, terlebih para Odha yang menolak memakai ARV. Sebagai Odha, Maggiore menolak memakai ARV dan kematiannya telah dipakai oleh para penganut pro AIDS sebagai bukti kuat bahwa HIV harus ditakuti, dengan demikian tidak ada alasan lagi untuk para Odha menolak ARV. Tapi apakah benar Christine Maggiore meninggal karena AIDS atau karena sekedar Pneumonia?

Mari kita simak berita yang dipublikasikan oleh Associated Press, pada tanggal 30 Desember 2008 berikut ini:

.

Christine Maggiore Penyangkal AIDS, Meninggal di LA pada Usia 52 Tahun

Christine Maggiore, aktivis yang gencar menyangkal bahwa HIV menyebabkan AIDS, menolak memakai obat antiretroviral (ARV) dan menuntut Los Angeles County (LAC) karena menyatakan bahwa putrinya yang berusia tiga tahun meninggal karena pneumonia terkait AIDS, telah meninggal. Dia berusia 52 tahun.

Maggiore meninggal di rumahnya di Van Nuys pada 27 Desember 2008. Dia dirawat karena pneumonia selama enam bulan terakhir, tetapi penyebab kematiannya yang resmi ditangguhkan, ujar Ed Winter wakil ketua kantor koroner LAC.

Dia mengatakan belum jelas apakah kematiannya terkait AIDS. Dia didiagnosis dengan HIV pada 1992.

Telepon ke rumahnya untuk meminta komentar suaminya, Robert Scovill, tidak dijawab. Setahun setelah didiagnosis, Maggiore adalah relawan di rumah penampungan AIDS dan berbicara tentang risiko HIV di acara-acara kesehatan dan di sekolah. Dia mulai mengubah pandangannya pada 1993 waktu dia melakukan lebih banyak tes HIV yang memberi hasil yang bertentangan, beberapa hasil negatif dan beberapa hasil positif.

“Semakin saya banyak membaca, semakin saya yakin bahwa penelitian AIDS telah menuju arah yang salah,” dia menulis dalam situs internet LSM yang dikelolanya, Alive & Well AIDS Alternatives.

Dia sangat terpengaruh oleh Peter Duesberg, profesor biologi dari Universitas California, Berkley. Duesberg berpendapat bahwa AIDS tidak disebabkan oleh HIV, tetapi karena penggunaan narkoba jangka panjang atau bahkan oleh AZT, unsur obat yang dipakai pada pengobatan AIDS.

Maggiore membentuk LSM yang menentang pandangan medis umum tentang penyebab dan pengobatan AIDS. Dia menulis sebuah buku, “Bagaimana Kalau Semua Yang Kita Anggap Tentang AIDS Adalah Salah (What If Everything You Thought About AIDS Was Wrong),” dan muncul di stasiun televisi nasional untuk mempromosikan pandangannya tentang kehamilan, kecanduan alkohol, penggunaan narkoba dan bahkan infeksi virus yang umum dapat menyebabkan hasil tes HIV positif yang keliru.

Maggiore menolak memakai ARV. Dia menyusui kedua anaknya, walaupun pandangan umum menyatakan bahwa menyusui meningkatkan risiko penyebaran HIV.

Pada 2005, putrinya, Eliza Jane Scovill, meninggal di usia tiga tahun. Gadis itu tidak pernah diberi tes HIV. Kantor koroner menyimpulkan dia meninggal karena pneumonia yang terkait dengan kasus AIDS lanjut.

Kejaksaan LA pada 2006 menolak pengajuan tuntutan kriminal padanya, mencatat bahwa orang tua gadis itu telah membawanya ke beberapa dokter.

Pakar toksisitas yang menjadi dewan penasihat kelompok Maggiore menyimpulkan bahwa kematian gadis itu adalah akibat reaksi alergi terhadap antibiotik. Maggiore menuntut LAC pada 2007, menyatakan bahwa kesimpulan hasil otopsi tidak memiliki bukti medis dan secara ilmiah tidak sesuai. Kasus itu masih ditunda.

Selain suaminya, Charles anak laki-laki Maggiore, masih hidup. Keduanya memiliki hasil tes HIV yang negatif.

 Sumber: Associated Press, Dec 30, 2008 [145]

.

Bukan karena Ganasnya HIV, tapi Karena Pneumonia!

Berita mengenai meninggalnya Maggiore seperti di atas telah dipakai oleh para penganut pro AIDS yang berusaha meyakinkan masyarakat bahwa HIV itu ganas dan benar-benar menyebabkan AIDS, jadi Odha WAJIB mengikuti ARV. “Buktinya adalah Maggiore sendiri meninggal karena menolak memakai ARV!”. Itulah komentar pro AIDS menanggapi hal ini.

Komentar saya pribadi sebagai AIDS denialist (penyangkal teori AIDS umum) adalah Christine Maggiore meninggal bukan karena ganasnya HIV atau AIDS, tapi karena pneumonia.

Kenapa demikian? Adakah penjelasan yang lebih logis atau masuk akal dibandingkan pernyataan tadi?

Baiklah saya jelaskan demikian… Maggiore terdiagnosa positif HIV di tahun 1992 dan setelah mengetahui kebenaran tentang AIDS, ia menolak memakai ARV di tahun 1993. Jarak antara meninggalnya Maggiore dengan ia menolak ARV adalah 15 tahun!

Jika Anda mencermati angka-angka yang saya sebutkan tadi… 15 tahun tanpa ARV…, meninggalnya Maggiore justru malah mendukung kebenaran pandangan para AIDS denialist.

Kita harus ingat pandangan pro AIDS adalah, HIV jika tidak diberi ARV akan MENIMBULKAN BERBAGAI PENYAKIT OPORTUNISIK. Oleh karena itulah pro AIDS MEWAJIBKAN para Odha untuk memakai ARV. Bagi pro AIDS, hanya ARV-lah solusi satu-satunya yang paten dan dapat “meningkatkan kualitas hidup Odha”.

Nah, justru disinilah terlihat kesalahan fatal pro AIDS. Selama 15 tahun tanpa ARV, Maggiore HANYA MENDERITA PNEUMONIA!!!

Para Odha di seluruh dunia yang memakai ARV, justru memperlihatkan gejala penyakit oportunistik yang bervariasi dibandingkan Maggiore yang tidak memakai ARV. Dan penyakit-penyakit oportunistik tersebut muncul secara beruntun dalam waktu kurang dari 1 tahun! Dibandingkan dengan Maggiore yang tidak memakai ARV selama 15 tahun, para Odha pro AIDS justru JAUH lebih menderita. Apakah ini yang dinamakan: “ARV meningkatkan kualitas hidup Odha?!”

Disamping itu…, jika kita lebih obyektif, tidak terpengaruh dengan “karisma orang pintar dan berkuasa” dan juga tidak gampang terpengaruh dengan pandangan umum, seharusnya akan jelas bagi kita untuk melihat yang benar.

AIDS adalah suatu sindrom hilangnya daya tahan tubuh. Itu berarti jika Anda terkena AIDS, Anda akan dengan mudah terserang flu, infeksi bakteri, jamur dan mikroba lainnya, kanker, peradangan, dan lain-lain. Bukan hanya itu, secara logika jika Anda terkena AIDS dan BELUM BISA DISEMBUHKAN, Anda akan  menderita penyakit oportunistik tidak hanya sebulan sekali atau seminggu sekali… bukan… Anda akan menderita semuanya SETIAP HARI! Itulah logika yang benar.

Cobalah Anda bandingkan ketika Anda stress dan kelelahan bekerja, pada saat itulah daya tahan tubuh Anda menurun sehingga Anda pun jadi sakit. Tapi ini baru MENURUNNYA daya tahan tubuh… bagaimana dengan  KEHILANGAN daya tahan tubuh?! Pasti efeknya lebih dahsyat lagi dan tidak hanya satu dua penyakit yang muncul.

Sungguh aneh jika Maggiore di usia 52 tahun, divonis oleh pro AIDS meninggal karena ganasnya HIV atau AIDS. Sungguh tidak masuk akal dan justru terlihat “kebohongannya”.

Ingat bahwa Maggiore tidak memakai ARV selama 15 tahun dan ia HANYA menderita pneumonia saja…, tidak ada yang lain. Jika memang pandangan pro AIDS adalah benar … seharusnya Maggiore menderita lebih dari satu penyakit.

Selain itu, jika memang pandangan pro AIDS adalah benar, Maggiore yang tidak memakai ARV … hidupnya seharusnya lebih menderita dibandingkan Odha yang memakai ARV. Tapi pada kenyataannya, ia bisa memiliki hidup yang normal seperti kebanyakan orang dan justru malah aktif dalam memerangi kebohongan AIDS.

Nah ada 2 fakta lain yang tertulis pada artikel Assosiated Press di atas sebagai bukti bahwa pandangan AIDS Denialist adalah benar:

  1. Anak Maggiore yang laki-laki adalah HIV negatif dan hidup hingga kini. Padahal dia DISUSUI oleh Maggiore!
  2. Suami Maggiore juga HIV negatif padahal dia berhubungan seks dengan Maggiore, istrinya, TANPA PENGAMAN!

Banyak para Odha yang tidak memakai ARV di dunia ini justru bisa lebih menikmati hidup (karena tidak tertekan dengan aturan terapi yang “super ketat”) dan mereka justru sehat-sehat saja. Anda bisa membaca kesaksian-kesaksian mereka di materi “Kesaksian dari ‘AIDS Suvivors’ Tanpa ARV”.

.

Para Odha Meninggal karena ARV itu Sendiri

Ya benar… selama ini yang membunuh para Odha bukanlah HIV, tapi ARV itu sendiri. Selain itu saya katakan bahwa HIV itu adalah virus bohongan dan jika memang ada, ia tidak lebih ganas dibandingkan flu biasa!

Tapi mungkin Anda berkata, “Tapi khan ada bukti foto HIV yang menyerang sel T?!?!”

Seperti yang Anda tahu… dalam Materi “Isolasi HIV Selama Ini Adalah Manipulasi”, dijelaskan bahwa hasil gambar mikroskop elektron yang asli seharusnya hitam putih, bukannya berwarna. Jika berwarna, itu berarti manipulasi komputer. Nah, publikasi foto-foto HIV selama ini adalah berwarna!

Selain itu, foto-foto yang ada sebenarnya adalah beberapa dari gambar sel yang diserang… bukan virus itu sendiri. Foto virus itu sendiri tidak pernah ada. Yang diperlihatkan adalah sel dan beberapa foto yang memperlihatkan bakteri (bukan virus) yang menyerang suatu sel. Itu semua adalah foto-foto “tipuan”.

Selain itu jika ada ilmuwan atau dokter yang mengatakan bahwa ia berhasil mengisolasi HIV, itu juga merupakan manipulasi kultur jaringan dalam lab. Tapi Anda bisa mengetahui penjelasan detailnya dari Dr. Stefan Lanka yang berhasil membongkar “Penipuan HIV” yang menjelaskan bahwa kultur isolasi HIV selama ini adalah kultur manipulasi lab, jadi bukan kultur asli. [146]

Semuanya adalah manipulasi dan kebohongan. Kebohongan ini bagi para pro AIDS merasa harus tetap dipertahankan karena AIDS adalah BISNIS MAHA BESAR!

.

RUTIN MINUM OBAT KIMIA MEMBUAT TUBUH DAN PENYAKIT MAKIN RESISTEN!

Banyak praktisi kesehatan terlebih masyarakat awam, tidak mengetahui FAKTA bahwa makin rutin kita memakai obat-obatan kimia, makin resisten (menolak dan kebal) pula tubuh dan penyakit MELAWAN pengobatan yang diberikan. Jika pengobatan kimia ini diteruskan, ini akan mengakibatkan kerusakan yang cukup fatal bahkan kematian! ARV yang jadi andalan para Odha pun juga demikian.

Hal ini dengan sederhana bisa kita pelajari dari sejarah atau fakta keseharian di sekitar kita. Coba Anda perhatikan bahwa seseorang yang sudah terbiasa meminum obat flu (misal: Sanaflu, Fludan, Inzana, dll) setiap kali terserang influensa, dosis yang diminum lama-kelamaan semakin meningkat. Ini bukan menandakan virus flunya yang makin kebal, tapi suatu petunjuk bahwa tubuhnya makin resisten.

Contoh lain, khusus untuk mengobati penyakit akibat infeksi bakteri, para dokter medis konvensional akan memberikan antibiotik sintetis pada pasien. Pemakaian rutin antibiotik ini pun tetap saja membuat bakteri makin resisten. Pasien lama-kelamaan akan menaikkan dosis antibiotiknya.

Antibiotik sintetis yang diberikan dengan tujuan mematikan bakteri penyebab penyakit ternyata juga mematikan bakteri lainnya yang SANGAT kita butuhkan untuk bisa tetap sehat. Jika bakteri penyebab penyakit ini masih tersisa, bakteri ini akan resisten juga terhadap pengobatan kimia yang diberikan. Jika pasien tetap diberikan antibiotik sintetis secara rutin, bukan hanya resistensi bakteri saja yang akan terjadi, tapi efek samping juga makin banyak bermunculan karena “bakteri menguntungkan” telah banyak dimatikan oleh antibiotik ini.

Hukum Alam telah menetapkan bahwa tiap organisme memiliki kecenderungan untuk bertahan hidup. Virus, bakteri, jamur, dan mikroba lainnya telah ditetapkan dalam Hukum Alam untuk bisa BERADAPTASI dan bertahan hidup. Adaptasi mikroba inilah yang menyebabkan mereka bisa bermutasi dan resisten.

Salah satu ciri Hukum Alam adalah segala mikroba telah dirancang untuk BERADAPTASI dan bertahan hidup dari “racun” atau “serangan” sintetis (buatan manusia). Ciri Hukum Alam berikutnya adalah segala mikroba memiliki “penghancur” alaminya tersendiri dimana mikroba tersebut TIDAK AKAN PERNAH bisa beradaptasi dan bertahan hidup. Hukum Alam ini sudah merupakan bagian dari rancangan Tuhan dan jika kita bijaksana, kita tinggal memanfaatkannya saja.

Itulah sebabnya mengapa segala cara tidak alami dari manusia untuk membasmi penyakit selalu mendapatkan penolakan baik dari tubuh kita sendiri (berupa efek samping) dan juga dari penyakit yang kita ingin basmi. Lain halnya jika kita memakai herbal atau terapi alami lainnya untuk memusnahkan penyakit, pengobatan alami tersebut mengandung “zat pembunuh alami” bagi mikroba tertentu. Dan yang harus Anda sadari adalah zat pembunuh alami ini telah dirancang oleh Tuhan dalam KemahabijaksanaanNya untuk bisa membunuh mikroba-mikroba tertentu tanpa menimbulkan resistensi.

Sama seperti kucing adalah pemangsa alami hama tikus, dan tikus TIDAK BERDAYA melawan kucing, kandungan alami dalam pengobatan alami, seperti misalnya propolis lebah memiliki kandungan polifenol yang tinggi, sangat efektif dalam membasmi berbagai virus dan bakteri, dengan aman dan mikroba tersebut tak berdaya untuk bisa “melawan balik” atau resisten. Ini sudah menjadi Hukum Alam dari Tuhan yang Maha bijaksana, yang telah merancangkan jauh-jauh hari di awal penciptaan bumi.

Jadi, jika Anda ingin mendapatkan pengobatan yang tubuh dan penyakit kita sendiri tidak akan resisten, pakailah pengobatan alami ciptaan Tuhan. Tuhan telah mempersiapkan musuh dan pembunuh alami bagi mikoba-mikroba penyebab penyakit. Apa Anda meragukan hikmatNya dengan cara meragukan rancangan dan ciptaan Tuhan ini?

.

ARV JIKA DIMINUM RUTIN, TUBUH DAN PENYAKIT AKAN TETAP RESISTEN

Salah satu DUSTA BESAR medis konvensional adalah Odha wajib minum ARV supaya virus tidak resisten. Saya sungguh prihatin dengan para Odha yang tidak memiliki pengetahuan cukup tentang sains kesehatan. Mereka menerima “doktrin” ini begitu saja karena mereka SEDANG DILANDA KEKHAWATIRAN YANG LUAR BIASA. Perasaan inilah yang membuat para Odha tidak bisa berpikir rasional dan mau menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh dokter medis konvensional tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa berusaha menyelidikinya.

ARV jika diminum rutin, tubuh dan penyakit akan tetap resisten terhadapnya. Jika Anda ingin bukti dari pernyataan kontroversial saya ini, silahkan perhatikan saja para Odha pemakai ARV disekitar Anda. Cepat atau lambat, mereka menaikkan dosis ARV atau mengganti jenis ARV supaya tidak memperlihatkan gejala oportunistik berlebih.

Lain halnya bagi para Odha yang menolak ARV dari SEJAK AWAL, kemudian memakai pengobatan alami secara rutin, mereka justru memperlihatkan kondisi yang MAKIN SEHAT SECARA PASTI (dan bisa dibuktikan secara lab) tanpa harus menaikkan dosis pengobatan!

Anda bisa menemukan cerita-cerita nyata dari para Odha yang mengalami kesembuhan dari AIDS tanpa  ARV di materi tulisan saya lainnya “Kesaksian dari “AIDS Survivor” Tanpa ARV”.

Disamping itu, yang perlu Odha sadari adalah yang membunuh para almarhum Odha adalah ARV itu sendiri, bukan HIV-nya! Kenapa bisa demikian? Karena HIV itu sendiri tidak pernah ada! Bayangkan saja, apa yang terjadi jika Anda sebenarnya hanya terinfeksi penyakit biasa (misal sakit perut, influenza, diare, demam, sakit kepala, dll) tapi diberikan OBAT KERAS yang PENUH DENGAN EFEK SAMPING MEMATIKAN? Tentu saja cepat atau lambat, obat keras itulah yang akan membunuh Anda, bukan penyakit Anda! Itulah yang terjadi dengan para almarhum Odha yang rutin memakai ARV!

ARV harus Odha konsumsi SEUMUR HIDUP dan tetap TIDAK MENYEMBUHKAN Odha, sedangkan pengobatan alami hanya dikonsumsi sampai mereka sembuh.

Jadi, saya tekankan kepada para Odha: TINGGALKAN ARV DAN MULAILAH PENGOBATAN ALAMI CIPTAAN TUHAN SEBELUM TERLAMBAT!!!

.

Referensi

[145] http://www.google.com/hostednews/ap/article/ALeqM5hLV5-uH0jNm_LWiyeDcj7yEHS4iAD95DAKP00

[146] http://www.neue-medizin.com/lanka2.htm

 

©2019 DutaSehat.com all rights reserved.

WhatsApp chat

Masuk dengan data akun Anda

atau    

Lupa rincian login Anda?

Buat Akun

%d blogger menyukai ini: