Di-tag: 

  • This topic is empty.
Melihat 0 pertalian (thread) balasan
  • Penulis
    Tulisan-tulisan
    • #27563
      Duta Sehat Admin
      Keymaster
      Points: 3.075

      Pertanyaan dalam hidup ini memang tak ada habisnya. Saat masih single selalu ditanya ‘kapan kawin’. Saat sudah berkeluarga dibombardir pertanyaan ‘kapan hamil’. Disadari atau tidak, hal ini bisa menyebabkan tekanan kepada seorang perempuan menikah, dan jika yang bersangkutan rapuh bisa menyebabkan munculnya kondisi hamil palsu alias pseodosiesis.

      “Itu dikategorikan sebagai tekanan lingkungan primer yang sangat signifikan bagi individu yang bersangkutan, apalagi di negara yang masih menuntut perempuan sempurna karena hamil dan melahirkan,” ujar psikolog klinis dan psikoterapi, Henny Wirawan, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (19/1/2015).

      Hal itu disampaikan Henny untuk menjawab pertanyaan apakah tuntutan orang tua agar anaknya segera hamil dan pertanyaan orang-orang sekitar seputar kehamilan bisa memicu terjadinya kehamilan palsu.

      Menurut Henny, dampak psikologis kehamilan palsu tentu saja negatif. Karena yang dibangun adalah harapan palsu maka akan menyebabkan konflik emosional yang lebih besar. Rasa bersalah, marah, sedih, terluka, dan takut akan bermunculan, bahkan bergelut sekaligus, sehingga mengakibatkan gangguan kesejahteraan psikologis yang menderitanya.

      “Supaya tidak berdampak negatif ya harus terapi, karena penderita perlu bertukar pikiran mengenai ketakutan dan kecemasannya, dan dibantu untuk menghadapi realitas (misalnya bahwa dia tidak dapat hamil, tidak akan pernah bisa hamil, atau tidak bisa hamil kembali),” jelas Henny yang juga staf pengajar di Universitas Tarumanagara ini.

      Cara untuk mengatasinya juga bisa dengan melatih pemikiran dan perasaan yang bersangkutan agar lebih terkendali ketika berhadapan dengan lingkungan ibu hamil atau mendengar berita tentang kehamilan. Sementara bagi mereka yang ingin menghindari kehamilan dan malah menyebabkan hamil palsu, juga dirasa perlu menjalani terapi agar lebih realistis dalam menghadapi kenyataan tentang kehamilan dan suka dukanya.

      Adakah tindakan preventif? “Tindakan preventif secara langsung untuk tiap orang sepertinya tidak ada, hanya berlatihlah untuk senantiasa realistis dalam menghadapi kehidupan dan kenyataan hidup yang manis maupun yang pahit,” ucap Henny.

      Sumber: Firli Isnaeni, Patricia Astrid Nadia, Firli Isnaeni – detikHealth

       

      Beli Mazanta VCO dapet BAYI LUCU!!!

      Buat yang sudah lama pengen punya momongan, tapi selalu gagal karena masalah hormonal, sperma lemah, kelainan bentuk sperma, rahim lemah, dll…

      Cobain deh rutin minum Mazanta VCO 2x10ml sehari, pagi dan sore.

      Yang minum adalah suami atau istri yang punya masalah kesuburannya. Tapi jika tidak tahu dengan jelas siapa yang punya masalah kesuburan, keduanya (suami-istri) harus minum Mazanta VCO seperti dosis di atas.

      Detail info & order, silahkan WA: 081353222797

      Website: Mazanta.com

       

Melihat 0 pertalian (thread) balasan
  • Anda harus log masuk untuk membalas topik ini.
Sharing is caring. Viralkan supaya bermanfaat bagi orang lain!

Tentang Duta Sehat     Panduan & Dukungan     Hubungi Kami     Kebijakan Privasi     Syarat & Ketentuan     Jadi Mitra

 

©2020 DutaSehat.com | Pusat Layanan Medis Holistik Indonesia

Mulai chat
1
Klik untuk chat via WA
Hai, silahkan klik untuk chat via WA :)

Login ke akun Anda

atau    

Forgot your details?

Create Account